Forum

Please or Register to create posts and topics.

Banjir, Longsor, dan Kita yang Selalu Kaget

Setiap berita lingkungan kali banjir datang atau longsor menelan rumah warga, reaksi kita nyaris selalu sama: kaget. Seolah-olah peristiwa ini datang tanpa tanda, tanpa sebab, tanpa sejarah. Padahal, jika mau jujur, hampir semua bencana lingkungan di negeri ini bisa diprediksi.

Kita tahu daerah resapan air menyusut. Kita tahu hutan di lereng gunung dibuka. Kita tahu sungai menyempit oleh bangunan dan sampah. Semua data tersedia, laporan demi laporan diterbitkan, peringatan demi peringatan disuarakan. Namun entah mengapa, saat bencana benar-benar terjadi, kita tetap berpura-pura terkejut.

Banjir bukan sekadar soal hujan deras. Ia adalah akumulasi dari tata kota yang gagal, izin bangunan yang serampangan, dan budaya abai terhadap lingkungan. Longsor bukan hanya soal tanah labil, tetapi hasil dari vegetasi yang dihilangkan tanpa perhitungan.

Ironinya, siklus ini terus berulang. Setelah bencana, bantuan datang, kamera menyala, pejabat turun lapangan. Beberapa minggu kemudian, semuanya kembali seperti semula. Tidak ada evaluasi serius, apalagi perubahan kebijakan yang menyentuh akar masalah.

Masyarakat sering diposisikan sebagai pihak yang “kurang sadar lingkungan”. Padahal, dalam banyak kasus, mereka tidak punya pilihan. Tinggal di bantaran sungai karena tak ada lahan lain. Menebang hutan karena ekonomi mendesak. Sementara keputusan besar justru diambil jauh dari lokasi terdampak.

Rasa kaget kolektif ini sesungguhnya bentuk penyangkalan. Kita menolak mengakui bahwa bencana adalah hasil dari pola pembangunan yang salah arah. Lebih mudah menyalahkan cuaca ekstrem daripada mengakui kesalahan sistemik.

Selama berita lingkungan kita terus “kaget” setiap kali bencana datang, selama itu pula kita menolak belajar. Dan selama kita menolak belajar, banjir dan longsor akan tetap menjadi agenda tahunan—lengkap dengan korban yang terus bertambah.